Satgas: Corona Jatim Melonjak karena Mobilitas dari Bandara – CNN Indonesia

Diposting pada

Surabaya, CNN Indonesia — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease (Covid-19) Jawa Timur menyatakan bahwa lonjakan kasus infeksi virus corona di daerah tersebut terjadi karena faktor mobilitas tinggi dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

“Salah satu penyebab naiknya kasus, kita lihat disini mobilitas khususnya penumpang udara yang cukup banyak,” kata Ketua Rumpun Kuratif, Joni Wahyuhadi, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (21/5).

Joni melontarkan pernyataan tersebut setelah Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa kasus positif corona di Jatim bertambah 502 dalam sehari.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun Joni, jumlah penerbangan, baik tiba maupun berangkat, dari Bandara Internasional Juanda, terus menunjukkan grafik peningkatan tiap hari. 

“Grafiknya naik terus dari ke hari. Kita lihat yang datang dan yang berangkat juga tambah. Ini data dari Juanda. Per hari ada 1.400 sampai 1.500, walaupun sudah dilakukan screening, tapi ini juga bagian dari itu,” katanya.

Sebaliknya, data mobilitas kendaraan darat yang keluar masuk Surabaya justru relatif stabil dan tak menunjukkan kenaikan signifikan.

“Kalau kita lihat dari kendaraan keluar masuk Surabaya, sebetulnya tidak terlalu signifikan. Relatif stabil, tidak ada kenaikan maupun penurunan signifikan, tetapi yang dari udara cukup signifikan,” ujar Joni. 

Selain itu, menurut Joni, lonjakan kasus yang tercatat itu juga karena data kumulatif selama tiga hari belakangan.

“Jadi 502 yang kita laporkan ke pemerintah pusat itu, berasal dari uji laboratorium ITD (Institute of Tropical Disease) Universitas Airlangga 488 atau 92 persen. Ini karena kasus yang dilaporkan mulai tanggal 18-19-20 Mei, jadi kasusnya cukup banyak,” katanya.

Data tersebut menjadi lonjakan tertinggi dalam sehari di Jawa Timur. Dengan data ini, secara keseluruhan total warga yang positif corona di Jatim mencapai 2.942 orang.

Namun, data yang dilaporkan tim Joni berbeda dengan Kementerian Kesehatan, yaitu 451 kasus tambahan.

“Hari ini tambahan cukup banyak. Memang ada perbedaan dari apa yang diumumkan [502], dengan yang tercatat di sini [451] karena ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi,” ujar Joni.

Joni mengatakan, selisih itu terjadi lantaran pihaknya masih melakukan penelusuran 51 pasien lainnya benar-benar merupakan warga Jatim. 

“Ada 51 yang masih di klarifikasi domisilinya,” kata dia. (frd/has)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *